Kebohongan Dwi Hartanto,
mahasiswa doktoral di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda, yang mengaku
sebagai profesor muda bidang aeronautika terkuak. Calon profesor muda (28
tahun) dan pengganti Habibie, begitu media massa menyebutnya.
Namanya naik daun dalam dua tahun setelah diberitakan
berbagai media elektronik maupun televisi setelah mengaku diminta banyak pihak
untuk mengembangkan pesawat jet tempur generasi keenam.
Sosok Dwi Hartanto ditulis
secara manis oleh berbagai media nasional sebagai doktor muda (28 tahun) calon
profesor bidang roket dalam tiga tahun terakhir. Dia dianggap
"pahlawan" Indonesia di negeri Belanda. Faktanya, Dwi lahir pada 13
Maret 1982. Artinya, dia sudah berumur 35 tahun, bukan 28 tahun seperti yang
diberitakan. Dia pun sempat mengaku bahwa ditawari menjadi warga negara Belanda,
tapi ditolaknya.
Selain itu, Dwi Hartanto sempat mengaku memenangkan lomba
riset Space craft and Technology di Jerman dan mengalahkan sejumlah ilmuwan
dari negara lain.
Namun hal tersebut rupanya memancing kecurigaan pada
sejumlah rekan Dwi di Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft. Penelusuran mereka
ada beberapa kejanggalan. Satu per satu kedok Dwi pun terbongkar.
Kebohongan tersebut sebetulnya
sudah diketahui oleh warga Indonesia di Belanda yang tergabung dalam
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda. Dirinya pun sudah diingatkan untuk
menghentikan aksinya tersebut. Adalah Deden Rukmana, profesor dan pakar urban
studies di Savannah State University, Amerika Serikat, yang pertama kali
mengungkap kebohongan Dwi Hartanto kepada publik dalam status Facebook
miliknya.
Menurut Deden, puncak kemarahan rekan-rekan ilmuwan
Indonesia di Belanda timbul saat tersebar pesan di grup WhatsApp Ikatan Ilmuwan
Indonesia Internasional (I-4). Deden termasuk anggota grup tersebut. Beberapa
orang, menurut Deden, mengambil inisiatif membentuk tim untuk membongkar
kebohongan Dwi.
"Rasa kebanggaan dan
kekaguman saya terhadap Dwi Hartanto 'terganggu' ketika saya menerima rangkaian
pesan dari WA group Pengurus I-4 yang membahas tentang yang bersangkutan. Pada
tanggal 10 September 2017 lalu, salah seorang anggota pengurus I-4 secara
terpisah mengirimkan dua dokumen lengkap berisikan investigasi terhadap beragam
klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto," tulis Deden dalam akun Facebook-nya.
Dalam statusnya, Deden menyebutkan dokumen pertama terdiri
33 halamam berisi beragam foto-foto aktivitas Dwi Hartanto termasuk dari
halaman Facebook-nya dan link berbagai website tentangnya. Salah satunya
termasuk transkrip wawancara di program Mata Najwa pada Oktober 2016, serta
surat-menyurat elektronik dengan beberapa pihak untuk mengklarifikasi aktivitas
yang diklaim Dwi Hartanto.
Dokumen kedua, tulis Deden,
sebanyak delapan halaman berisikan ringkasan investigasi terhadap klaim yang
dibuat oleh Dwi Hartanto termasuk latar belakang S1 (Strata-1), umur, roket
militer, PhD in Aerospace, Professorship in Aerospace, Technical Director di
bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan media
international, dan kompetisi riset.
"Saya menilai mereka sebagai pihak yang mengetahui
kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar
kebohongan ini dihentikan. Mereka sudah menemui Dwi Hartanto dan memintanya
agar meluruskan segala kebohongannya, tapi tidak ditanggapi serius oleh yang
bersangkutan,".