September 2017

Ketika PRABOWO Galau karena kehabisan Bahan KRITIK Pada JOKOWI


Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia (LAPI), Maksimus Rmses Lalongkoe menilai. Bahwa Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto sedang galau dan kehabisan bahan untuk mengritik pemerintahan Joko Widodo.


Pasalnya, Prabowo menganggap bantuan pemerintah Jokowi untuk etnis Rohingya adalah pencitraan. "Terkait kritik ini juga menandakan Prabowo sedang galau dan tidak memiliki cukup bahan untuk mengritik pemerintahan Jokowi," tegas Ramses  Minggu (17/9). 




Kata dia, Prabowo kesulitan mencari celah kesalahan Jokowi sehingga hal baik pun yang dilakukan pemerintahan mantan Gubernur DKI Jakarta itu, tetap saja dianggap sebagai hal yang kurang benar.

Prabowo, menurut analisis Maksimus, seperti sedang kebingungan dalam menghadapi pola kerja Jokowi yang berdasarakn beberapa survei, cukup membuat puas masyarakat Indonesia.

“Kebanyakan publik menilai puas. Sehingga tak ada cara lain untuk menjatuhkan Jokowi selain Prabowo mengritik Jokowi dengan alasan-alasan yang tidak rasional," singgung Ramses.

Dia menegaskan, yang dilakukan Jokowi bukanlah pencitraan melain bantuan kemanusiaan tanpa memandang latar belakang manusia itu.

"Harusnya Prabowo menyampaikan terima kasih atas upaya kemanusiaan Jokowi bukan malah mengeritik yang bersifat destruktif," sebut dia.

Dari sisi politik kritikan Prabowo dianggap tidak berdampak bagi publik. "Sebab apa yang dilakukan Jokowi murni untuk pertolongan dan bantuan kemanusiaan bukan untuk kepentingan politik dalam negeri," pungkas Ramses.

BOM HIDROGEN KORUT Ribuan Lebih Mengerikan dari BOM ATOM HIROSHIMA


Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Padangpanjang, Sumatera Barat (Sumbar) mendeteksi adanya uji coba nuklir yang dilakukan Korea Utara (Korut) pagi tadi.


Seismograf BMKG Padangpanjang itu mendeteksi getaran nuklir sebesar 6,2 skala Richter (SR) dari titik pusat di Korut.




Korut pun mengklaim bahwa uji cobanya lah yang menyebabkan guncangan di beberapa negara itu. Mereka mengatakan uji coba tersebut merupakan sebuah bom hidrogen yang dirancang untuk dipasang pada rudal balistik antarbenua yang baru dikembangkan.

Tentu, jikalau yang diklaim korut adalah benar bom hidrogen, menurut Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, itu sangat mengkhawatirkan.

"Artinya, Korut bisa mengancam negara mana saja dengan bom hidrogen yang layak dijuluki sebagai senjata pemusnah masal," ujarnya, Minggu (3/8).

Namun yang lebih menakutkan lagi adalah, bila tartget bom hidrogen itu Pulau Guam. "Karena, kalau benar klaim bom hidrogen, maka efeknya ribuan kali bom atom HiroshimaNagasaki," sebutnya.

Apalagi, Pulau Guam letaknya dekat dengan Indonesia. Dampaknya bukan hanya ledakan luar biasa, namun bisa menimbulkan radiasi.

Akan tetapi, Djarot juga mengaku perlu menunggu konfirmasi mengenai bom hidrogen tersebut. "Kita harus masih menunggu monitor dari negara tetangga Korut yang segera bisa mendeteksi apakah itu bom hidrogen atau bukan," pungkas Djarot.

MYANMAR semakin MENCEKAM!!!! Sedikitnya 2.600 Rumah Warga ROHINGYA ludes dibakar


Insiden memilukan kembali terjadi di Myanmar. Lebih dari 2.600 rumah milik warga Rohingya di sebelah barat laut negara tersebut dibakar massa.
Berdasarkan keterangan dari Pemerintah Myanmar, kejadian itu terjadi pada pekan lalu.

Menurut Pemerintah Myanmar, pembakaran dilakukan kelompok separatis Arakan Rohingya Salvation Army. Demikian dilansir dari Channel News Asia, kamis (2/9/2017).




Hingga kini, belum ada respons dari kelompok Arakan terkait tuduhan pemerintah tersebut.
Grup Arakan merupakan salah satu musuh terbesar aparat keamanan. Pada pekan lalu, kelompok ini mengaku bertanggung jawab atas serangan di pos polisi.

Akibat serangan tersebut, militer Myanmar melakukan pembalasan. Operasi pembasmian kelompok Arakan berubah jadi kericuhan besar yang membuat kondisi Rakhine mencekam.

Semenjak kericuhan pecah, dari data UNHCR, 58.600 warga Rohingya kabur ke Bangladesh. Sampai saat ini, bantuan kemanusian PBB masih sulit menjangkau kelompok Rohingya.

Selain itu, tantangan lain yang harus dihadapi, anggota kelompok Rohingya walau telah mencoba kabur, tetap dikejar-kejar oleh Tentara Myanmar.

Nasib 1,1 juta warga Rohingya menjadi tantangan besar bagi pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. Dia dituduh barat melakukan pembiaran aksi genosida dan kekerasan.